Halaman Muka arrow Penelitian arrow 2011 arrow Identifikasi Kesiapan Penghuni Perumahan Dalam Menerapkan Gaya Hidup Berkelanjutan di Kota Bandung

Menu Utama
Halaman Muka
Sambutan Kepala
Anggota Kami
Program Riset
Akademis
Penelitian
Pengabdian Masyarakat
Pojok Interaktif
Publikasi
Hubungi Kami
Alamat Web
Pencarian Web
Disklaim
Siapa Online
Saat ini ada 2 tamu online
Statistika
Pengunjung: 2503375
Tambahan Terbaru
Sindikasi

redtube redtube redtube redtube redtube xnxx xnxx xnxx xnxx xnxxx
 
on 13-04-2012 15:08
Views 2494    

IDENTIFIKASI KESIAPAN PENGHUNI PERUMAHAN DALAM MENERAPKAN GAYA HIDUP BERKELANJUTAN DI KOTA BANDUNG DAN SEKITARNYA

PI: Dr. Ir. Iwan Kustiwan, MT.

Ringkasan Proposal

Pertumbuhan perkotaan di Indonesia, terutama di kota besar dan metropolitan, sedang mengalami perkembangan yang pesat, ditunjukkan oleh laju pertumbuhan penduduk yang tinggi dan perkembangan fisik-spasial kota yang cenderung ekspansif ke kawasan pinggiran kota yang dikenal sebagai proses suburbanisasi. Proses urbanisasi ini terjadi dalam rangka memenuhi kebutuhan perumahan beserta sarana-prasarana pendukungnya. Keterbatasan lahan di kawasan pusat/inti kota menyebabkan kawasan pinggiran yang harga lahannya relatif murah menjadi lokasi utama untuk pembangunan perumahan-perumahan baru dan kegiatan fungsional lainnya. Namun, suburbanisasi yang terjadi cenderung menjadikan kawasan perkotaan secara fisik meluas secara liar/terpencar (urban sprawl) dan conurbation yang semakin tidak terkendali, mengkonversi lahan-lahan pertanian subur dengan berbagai dampaknya terhadap lingkungan. Sebagai contoh, Kota Bandung sebagai salah satu kota metropolitan di indonesia memiliki perkembangan laju pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang pesat, membuat perkembangan fisik dan spasialnya cenderung ekspansif, bahkan jauh melampaui batas administrasi wilayah kota. Perkembangan kawasan terbangun yang sangat cepat ini terutama dipacu oleh perkembangan kawasan perumahan baru dalam dua dekade terakhir ini, dengan mengikuti perkembangan jaringan jalan dan ketersediaan lahan. Dalam kurun dua dekade terakhir ini, perubahan penggunaan lahan di Kota Bandung tampak dari laju pertumbuhan kawasan terbangun di kawasan pinggiran (lahan perumahan, industri, komersial dan jasa) yang jauh lebih besar dari kawasan pusatnya.

Dalam konteks kota dan lingkungan, perkembangan kawasan terbangun yang cenderung meluas dan menyebar secara acak ini pada dasarnya berkaitan dengan bentuk perkotaan (urban form) sebagai salah satu isu berkelanjutan (Wheeler, 2004). Pada penelitian sebelumnya, diketahui bahwa terdapat keterkaitan yang erat antara bentuk perkotaan pada skala kawasan perumahan terhadap karakteristik pergerakannya. Semakin beragam penggunaan terhadap lahan non perumahan, semakin padat bangunannya, dan semakin sederhana pola jalan internal kawasan perumahan tersebut, maka semakin besar pengguna non kendaraan, semakin pendek jarak tempuh perjalanan, dan semakin kecil biaya transportasi yang dikeluarkan perbulannya (Kustiwan, 2009). Hal ini berarti bentuk fisik perkotaan mempengaruhi isu keberlanjutan, khususnya pada skala lingkungan, dalam penggunaan kendaraan bermotor. Di sisi lain, terdapat beberapa fakta bahwa pembangunan suatu perumahan yang terencana dengan menggunakan prinsip-prinsip keberlanjutan ternyata tidak menciptakan suatu komunitas yang berkelanjutan. (Haughton dan hunter, 1994; Williams, et al., 2000). Namun, pembangunan fisik dengan konteks berkelanjutan tersebut ternyata tidak menjamin tercapainya keberlanjutan jika perilaku dan gaya hidup penghuninya tidak sejalan dengan sarana yang tersedia. Bahkan, pembangunan perumahan tersebut cenderung dilihat sebagai lahan bagi masyarakat yang berpendapatan tinggi, berorientasi pada penggunaan kendaraan bermotor, dan bersifat eksklusif dari komunitas sekitarnya (English Partnership, 2004).

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka fokus dari penelitian ini adalah melihat pengaruh perilaku dan gaya hidup penghuni dalam mempengaruhi keberlanjutan pada skala lingkungan. Pada kenyataannya, keberlanjutan pada skala lingkungan perumahan tidak cukup dilihat dari pembangunan fisiknya saja namun juga perilaku penghuninya. Hal ini dikarenakan konsep keberlanjutan tidak hanya dilihat dari sisi fisik, namun juga harus dapat mengakomodasi perkembangan interaksi, komunikasi dan budaya penduduknya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perilaku dan gaya hidup penghuni perumahan yang dibangun dengan prinsip-prinsip keberlanjutan sehingga dapat menjadi dasar dalam merumuskan strategi pengembangan kawasan perkotaan khususnya kawasan permukiman baru sesuai dengan struktur dan pola ruang kota yang lebih berkelanjutan. Perilaku dan gaya hidup tersebut dilihat dari perilaku penghuni yang ramah lingkungan dalam menggunakan fasilitas rumahnya, dalam melakukan perjalanan dan kepemilikan kendaraan, serta perilaku sosialnya.

Published in : Penelitian, 2011
Quote this article in website Print Send to friend

Users' Comments (0) RSS feed comment
Comment language: English (0), Bahasa Indonesia (0)

No comment posted

Add your comment



mXcomment 1.0.8 © 2007-2017 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
Toko Buku
  
Image Pengantar Perencanaan Perkotaan
  
Image Karakteristik Perekonomian Kawasan Metropolitan di Indonesia...
  
Image Profil Lingkungan Hidup Kawasan Metropolitan di Indonesia dan...
  
Image Karakteristik Struktur dan Pola Ruang Kawasan Metropolitan..
  
Image
Kapasitas Tenaga Kerja Kawasan Metropolitan Jabodetabek
  
Image Tahapan Perkembangan Kawasan Metropolitan Jakarta
  
Image
Komparasi Bentuk Perkotaan dan Karakteristik Sosial Ekonomi dalam...
  
Image Komparasi Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Preferensi...
  
Image Studi Perbandingan Karakteristik Pemanfaatan Fasilitas Penghuni...