Kelompok Keahlian Perencanaan Wilayah dan Perdesaan

Kuliah Tamu Dari Kobe University, Miyagi University of Education, dan Yamagata University

Kuliah tamu 1

Pada hari Rabu, tanggal 19 Maret 2014, SAPPK ITB menerima dan mengadakan kuliah tamu bagi peserta mata kuliah PL 5203 “Metodologi Penelitian Lanjut” bagi mahasiswa magister pada konsentrasi Perencanaan Penanggulangan Bencana yang diampu oleh Dr. Saut A.H. Sagala dan PL 3001 “Aspek Kebencanaan dalam Perencanaan” bagi mahasiswa sarjana Prodi PWK yang diampu oleh Dr. Harkunti Rahayu. Kuliah tamu tersebut dipandu oleh Asisten Akademik KK Perencanaan Wilayah dan Perdesaan (PWD), Mizan Bustanul Fuady, MT., M.Sc., dan menghadirkan tiga pembicara dari Jepang, yakni Associate Professor Aiko Sakurai (GSICS-Kobe University), Associate Professor Takashi Oda (Miyagi University of Education), dan Professor Yoshiuki Murayama (Yamagata University). Rombongan sebelumnya melakukan pertemuan dengan Dr. Harkunti Rahayu dan Dr. Tubagus Furqon Sofhani di Pusat Penelitian Mitigasi Bencana ITB.

Sebagai pembicara pertama, Profesor Murayama mengetengahkan topik “Effects of School Education for Disaster Prevention: a Case Study on Evaluation of the Education at an Elementary School in Sendai City based on the Great East Japan Earthquake 2011”. Profesor Murayama menyampaikan pengalamannya melaksanakan pendidikan bencana pada sekolah dasar Kita-rokubancho, di Kota Sendai, pada tahun 2007 (4 tahun sebelum Gempa Tohoku pada 2011). Kegiatan pendidikan bencana tersebut terdiri atas kuliah spesial dari Profesor Murayama pada siswa, town watching untuk pengurangan risiko bencana, pembuatan “peta bencana” oleh siswa, serta pelatihan bencana. Pada akhir kegiatan, survey dilakukan untuk mengetahui ketersampaian materi pendidikan bencana. Setelah Gempa Tohoku terjadi pada 11 Maret 2011, Profesor Murayama melakukan kembali penelitian dan mewawancarai para siswa untuk mengetahui apakah materi yang disampaikan 4 tahun sebelumnya bermanfaat bagi tindakan yang dilakukan para siswa untuk menyelamatkan diri dari ancaman gempa bumi dan tsunami pada saat itu. Hasil dari penelitian beliau menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih ingat dan menyatakan bahwa informasi yang didapatkan pada pendidikan bencana pada tahun 2007 bermanfaat untuk penyelamatan diri pada saat kejadian bencana sesungguhnya. Dalam sesi tanya jawab, Profesor Murayama menyatakan bahwa hambatan terbesar yang beliau rasakan pada saat itu ialah untuk mencari sekolah yang mau berkomitmen terhadap kegiatan pendidikan bencana. Sementara itu, pembelajaran untuk konteks Indonesia yang dapat diambil dari penelitian beliau ialah, pentingnya pemantauan dan evaluasi jangka panjang dampak dari pendidikan bencana yang dilakukan setelah suatu kejadian bencana terjadi.

Pada sesi kedua, Associate Professor Takahashi Oda mengetengahkan topik “What brought me here today: the life changing 2011 disaster in Japan for a geographer” yang memadukan antara pengalaman pribadi dan professional beliau sebagai pakar geografi. Secara pribadi, gempa dan tsunami Tohoku 2011 memberikan dampak langsung bagi keluarga beliau yang memiliki kampung halaman di Kota Iwaki, Fukushima prefecture. Beliau menggarisbawahi pentingnya pemanfaatan dan diseminasi informasi spasial secara akurat karena akan memengaruhi perilaku first responder dalam keadaan bencana, seperti pemadam kebakaran, tenaga medis, dan lainnya, serta perilaku warga dalam evakuasi. Sebagai contoh, Pemerintah Jepang merilis zona dengan radius 20 dan 30 km serta berbentuk melingkar dari reaktor nuklir sebagai daerah yang berisiko terhadap paparan radiasi nuklir. Dalam peta ini Kota Iwaki juga termasuk ke dalam zona tersebut sehingga mengakibatkan first responder enggan memberikan bantuan pada kota tersebut dan masyarakat memilih untuk bermigrasi. Namun, dalam penelitian yang beliau lakukan, dan juga akhirnya terjadi koreksi pada keadaan sebenarnya, ketika risiko paparan radiasi nuklir dipetakan dalam bentuk sebenarnya, diketahui bahwa risiko keterpaparan radiasi tidak berbentuk radial dan merata di seluruh prefektur Fukushima. Dengan demikian pada pemutakhiran peta, diketahui bahwa Kota Iwaki sebenarnya aman dan berisiko rendah terhadap paparan radiasi nuklir. Sebagai simpulan dari paparannya, Asst. Professor Oda kembali menekankan pentingnya diseminasi informasi publik dalam keadaan bencana bagi masyarakat dalam mengambil tindakan penyelamatan diri.

Pada kesempatan pemaparan terakhir, Associate Professor Aiko Sakurai dari GSICS-Kobe University memaparkan kuliah dengan topik “Development of a School-based Disaster Recovery Education Program: A Case of a “Reconstruction Mapping” Program in Ishinomaki City” yang merupakan kegiatan penelitian-tindak kolaborasi antara beberapa universitas di Jepang dengan Kota Ishinomaki di prefektur Miyagi. Berbeda dengan implementasi pendidikan untuk pengurangan risiko bencana yang sudah mulai umum diterapkan, kegiatan yang beliau pimpin menekankan pada pentingnya pendidikan pada proses pemulihan setelah suatu kejadian bencana besar. Pada kegiatan tersebut, siswa kelas empat pada Sekolah Dasar Kazuma di kota Ishinomaki dilibatkan melalui proses town watching yang dimodifikasi untuk memantau dan mencatat proses pemulihan di distrik sekolah tersebut. Para siswa diberikan panduan untuk menilai keberlangsungan pemulihan di lingkungan komunitas mereka dan diminta untuk berinteraksi dengan komunitas sekitar. Setelah dilakukan selama dua tahun, diketahui bahwa kegiatan ini bermanfaat positif bagi siswa untuk bersikap mental positif dan pada saat yang sama membangun partisipasi aktif mereka dalam proses pemulihan pasca bencana dimana hasil dari recovery mapping yang dilakukan anak-anak kemudian dipresentasikan pada komunitas dan memperkaya rencana pemulihan di komunitas tersebut.

Setelah presentasi dari ketiga pembicara, dilakukan sesi tanya jawab dimana perwakilan mahasiswa dari program studi sarjana dan magister PWK menyampaikan pertanyaan masing-masing dan mendapat tanggapan konstruktif dari para pembicara. Kegiatan kemudian ditutup oleh Dr. Harkunti Rahayu yang menekankan pentingnya pembelajaran dari kuliah tamu tersebut dimana mahasiswa dapat belajar mengenai pentingnya pengayaan proses pembangunan dan perencaan dengan melibatkan anak-anak, serta pengetahuan dan teknis untuk implementasi town watching serta pemantauan dan evaluasi jangka panjang atas suatu kegiatan pengurangan risiko bencana.

Berita Terkait