Kelompok Keahlian Perencanaan Wilayah dan Perdesaan

Dampak Post-Suburbanisasi Terhadap Penggunaan Energi

Abstract

Munculnya kantung-kantung permukiman dan pusat-pusat aktivitas di kawasan pinggiran, atau dikenal dengan istilah post-suburbanisasi akan mempengaruhi pola pergerakan di kawasan metropolitan di Indonesia. Fenomena post-suburbanisasi di Indonesia, khususnya di Kawasan Metropolitan Jakarta sebagai Ibukota, teridentifikasi mulai terjadi pada beberapa tempat dengan kegiatan utama berupa industri. Fenomena ini digambarkan dari jumlah penduduk yang meningkat, area terbangun yang semakin meluas, dan jumlah investasi yang meningkat di daerah pinggiran Jakarta. Dengan pergesaran struktur ruang permukiman dan pusat kegiatan baru di daerah pinggiran Jakarta ini, maka akan mempengaruhi pola penggunaan energi yang sangat berkorelasi dengan pola pergerakan penduduk. Secara keruangan, konsumsi energi terbesar di kawasan pinggiran adalah untuk pergerakan, rumah tangga, dan kegiatan ekonomi.

Penelitian ini akan mengkaji sejauh mana post-suburbanisasi mempengaruhi perubahan pola konsumsi energi di kawasan metropolitan, sebagai wilayah yang memilikikonsentrasi penduduk perkotaan terbesar di Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan pola penggunaan energi pada daerah pinggiran Jakarta, dan menganalisis biaya dan manfaat dari pola penggunaan energi di kawasan metropolitan. Kemudian dengan mengetahui pola penggunaan energi dan biaya manfaat dalam penggunaanya, diharapkan dapat dikembangkan alternatif model bentuk dan struktur keruangan yang mampu mendukung konservasi energi.  Penelitian akan dilakukan di dearah pinggiran Jakarta yang berdasarkan penelitian sebelumnya telah terindikasi terjadi fenomena post-suburbanisasi, khususnya untuk pusat kegiatan industri. Daerah yang menjadi studi kasus diantaranya adalah di Cikarang, Kabupaten Bekasi; Teluk Jambe, Kabupaten Karawang; Cikande, Kabupaten Serang; dan Cikupa-Balaraja, Kabupaten Tangerang.

Metode pengumpulan data pada riset ini terdiri dari pengumpulan data sekunder dan data primer. Data sekunder yang dikumpulkan berupa data statistik dan data spasial dalam bentuk peta guna lahan untuk meninjau perkembangan struktur dan pola ruang di wilayah pinggiran Metropolitan Jabodetabek. Pengumpulan data primer dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kecenderungan aktivitas komuting dan pola penggunaan energi di wilayah pinggiran. Selain itu, data primer juga dikumpulkan melalui wawancara terhadap aktor-aktor kunci yang memiliki pengaruh terhadap pengembangan pusat-pusat kegiatan ekonomi sekunder dan tersier, antara lain industri, perdagangan, dan jasa, terutama yang dikembangkan pada kawasan-kawasan yang terencana. Adapun metode analisis yang digunakan diantaranya adalah Analisis statistik deskriptif, yaitu untuk mendapatkan gambaran mengenai perkembangan pola dan struktur ruang di wilayah pinggiran. Selain itu, juga akan digunakan Qualitative content analysis, yang bertujuan untuk memilah data yang relevan dan mengklarifikasi informasi yang diperoleh dari sumber-sumber yang berbeda. Dan yang terakhir adalah Social Benefit Cost Analysis, yang bertujuan untuk mengetahui dampak dari berkembangnya pusat kegiatan, khususnya kegiatan industri di pinggiran Jakarta terhadap pola penggunaan energi sehingga dapat dirumuskan model bentuk dan struktur keruangan yang mampu mendukung konservasi energi.

 

Berita Terkait