Kelompok Keahlian Perencanaan Wilayah dan Perdesaan

Diskusi Bulanan KK PWD Februari 2015

 

KK PWD pada tanggal 17 Februari 2015 telah mengadakan diskusi rutin bulanan yang bertempat di Ruang Data, Gedung Perencanaan Wilayah dan Kota, Lt. 2, SAPPK ITB, Jalan Ganesha 10 Bandung. Diskusi tersebut dilaksanakan pada pukul 14.00 – 15.30 WIB.

Tema                     :  Post-Suburbanization in Jabodetabek (Jakarta Metropolitan Area), Indonesia: The Privatization of Urban Fringes

Pembicara           :  Prof. Tommy Firman

Kegiatan ini dihadiri oleh 18 orang yang terdiri dari dosen Perencanaan Wilayah dan Kota ITB serta asisten KK PWD. Prof. Tommy Firman menyampaikan presentasi penelitiannya ketika beliau berada di Harvard University pada bulan Desember 2014.  Penelitian beliau bertujuan untuk menilai sejauh mana perkembangan wilayah Jabodetabek dicirikan dengan fenomena post-suburbanisasi. Presentasi ini terbagi menjadi beberapa bagian yaitu:

Perkembangan terkini dari wilayah Jabodetabek

Populasi di Jabodetabek pada tahun 2010 mencapai sekitar 20% dari penduduk perkotaan di Indonesia. Populasi di Kota Jakarta, yang merupakan inti dari Jabodetabek mencapai hampir 34% dari seluruh populasi Jabodetabek. Pertumbuhan penduduk di Jakarta pada tahun 2000-2010 sebesar 1,49%. Pertumbuhan penduduk di pinggiran Jakarta bahkan lebih tinggi dengan persentasi lebih dari 3% di  Bekasi, Bogor, Tangerang, dan Depok.

Hampir 60% dari investasi asing (PMA) dan 30% investasi domestic (PMDN) pada sektor-sektor manufaktur di Indonesia berlokasi di Jabodetabek. Dengan tingginya perkembangan di Jabodetabek, kawasan pinggiran Jakarta dicirikan dengan pembangunan perumahan skala besar, kota baru, dan pembangunan kawasan industri.

Konteks teoritis dari perkembangan post-suburbanisasi

Karakteristik dari post-suburbanisasi di negara berkembang menurut (Wu dan Phelps, 2008; Wu dan Lu, 2008) yaitu:

  1. Pembangunan perumahan bersubsidi yang terjangkau di kawasan pinggiran kota.
  2. Sub-urbanisasi kawasan industri
  3. Sub-urbanisasi kawasan perdagangan
  4. Perubahan kepadatan penduduk, populasi penduduk yang tersebar, dan banyaknya komuter di wilayah tersebut.
  5. Banyaknya pembangunan yang berorientasi pasar (market-oriented).
  6. Adanya dorongan investasi strategis dan pembangunan infrastruktur.
  7. Peran pemerintah yang kuat dalam prosesnya.

Sedangkan, karakteristik dari post-suburbanisasi di western countries menurut (Wu dan Phelps, 2008) yaitu:

  1. Populasi di kawasan pinggiran berkurang, penuruan pendapatan penduduk relatif terhadap pendapatan daerah, desentralisasi lapangan kerja dari pusat-pusat kota.
  2. Guna lahan yang beragam.
  3. Pembangunan polisentris.
  4. Peran pemerintah yang signifikan dan kepentingan bisnis dalam prosesnya.

Kecenderungan dari post-suburbanisasi di Jabodetabek

Kota Jakarta sebagai inti dari Jabodetabek telah mengalami perkembangan populasi yang rendah secara keseluruhan, sementara populasi Jabodetabek berkembang pesat. Hal ini menyebabkan konversi lahan dari lahan pertanian menjadi guna lahan non-pertanian di kawasan pinggiran, sedangkan di pusat kota banyak kawasan perumahan yang berubah menjadi kondiminium, perkantoran, dan kawasan bisnis.

Perkembangan Jabodetabek diindikasikan dengan berkembangnya kota-kota baru di kawasan pinggiran. Karakteristik dari sebagian besar pembangunan kota baru di kawasan pinggiran adalah kepadatan yang rendah, rumah tunggal, dan kawasan perumahan yang eksklusif untuk kalangan menengah ke atas.

Kesimpulan

Perkembangan Jabodetabek saat ini telah dicirikan oleh campuran dari “dormitory towns” dan kota mandiri di pinggiran perkotaan dengan basis ekonomi yang beragam, termasuk sektor manufaktur (Kota Jababeka), MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition; Kota Bogor), pendidikan tinggi (Kota Depok dan Kota Bogor). Perkembangan terkini Jabodetabek menunjukkan beberapa karakteristik di dalamnya, walaupun mungkin saat ini masih pada tahap awal dari “Post-Suburbia”. Kebijakan pemerintah yang mendukung pertumbuhan telah mengakibatkan terjadinya “suburbanisasi” di Jabodetabek. Selain itu, sektor privat (swasta) memiliki peran penting dalam perkembangan Jabodetabek.

Berita Terkait